Harapan Mentawai

Send Tweet Share

MENTAWAI SIAP BERKEMBANG

Desa Madobag dan Desa Matotonan di Kecamatan Siberut Selatan contohnya. Kedua desa tersebut masih belum terjangkau listrik, dan karenanya warga sulit mengakses air bersih. Kondisi air yang warga gunakan untuk keperluan sehari-hari masih  keruh. “Listrik dan air bersih adalah dua hal yang mendesak,” Ujar Sekretaris Desa Madobag. “Bagaimana anak-anak bisa belajar dengan baik tanpa adanya listrik?” Lanjutnya.

Hidup dengan keterbatasan adalah hal yang lumrah bagi warga Pulau Siberut. Tapi ini bukan berarti mereka dengan serta merta menerimanya. Banyak warga yang mengandalkan pasokan listrik dari generator tenaga diesel. Proses ini tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga mahal. Warga harus menghabiskan banyak uang demi ketersediaan listrik untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Kebutuhan akan fasilitas penunjang kehidupan modern sangat jelas terdengar di salah satu lirik lagu daerah yang beberapa kali kami dengar di Muara Siberut. Seseorang dapat hidup makmur jika dirinya menjadi raja sinyal dan raja minyak—sinyal untuk keperluan komunikasi, dan minyak (dalam hal ini solar) untuk keperluan kelistrikan—demikian lagu itu berkelakar.

Kami melihat sendiri semangat generasi muda Pulau Siberut. Pada sebuah pertunjukan seni, anak-anak muda Siberut mempertontonkan seni tarian yang menggunakan lagu-lagu Korea, dan bahkan menggabungkan tarian tradisional dengan tarian breakdance. Dari manakah mereka mengambil referensi itu? Tentunya dari situs-situs media sosial di internet.

Anak-anak muda Siberut terhubung dengan perkembangan budaya global, bahkan di tengah keterbatasan infrastruktur seperti lemahnya sinyal ponsel untuk mengakses internet. Semangat anak-anak muda Siberut menunjukkan betapa Mentawai sesungguhnya ingin terhubung dengan pergerakan dunia. Hal ini pun tampak jelas di dalam keinginan Mentawai untuk mengembangkan industri pariwisata mereka. Mentawai sadar akan potensinya, dan Mentawai siap untuk berkembang.

“Kalau Bapak menawarkan Sawit, Bapak sudah kami usir.”  

Kecamatan Siberut Tengah, tepatnya desa Saliguma, adalah salah satu wilayah di mana Green Prosperity Mentawai (GPM) akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Bambu  (PLTBM). Guna mensosialisasikan program pembangunan tersebut, tim GPM pergi menuju pusat pemerintahan Siberut Tengah, desa Saibi.

Hujan rintik-rintik mengiringi kedatangan kami di desa Saibi. Beruntung, senyum hangat warga setempat menyambut. Setelah mendengar maksud dan tujuan kami berkunjung, kami diantar menuju kantor camat untuk bertemu dengan Pak Camat Akas.

Dalam pertemuan bersama Pak Akas, kami  menyampaikan terima kasih kami atas sambutan hangat yang kami terima. Pak Akas pun berterima kasih atas kunjungan kami. Perbincangan berlangsung hangat, namun ada satu kesempatan di mana Pak Akas menyampaikan sesuatu yang gamblang dan cukup mengejutkan.

“Terus terang. Kalau Bapak menawarkan Sawit, Bapak-Ibu sudah kami usir,” tegas Pak Camat Akas. Ia pun kemudian bercerita tentang datangnya korporasi yang membawa angin surga, tapi pada akhirnya hanya berniat untuk mengambil hasil bumi mentawai untuk kepentingan mereka sendiri.

Selama bertahun-tahun, Mentawai hanya menjadi sumber komoditas. Pohon-pohon ditebang untuk hasil kayu, dan kawasan hutan dibuka untuk menanam komoditas pertanian. Semua itu dilakukan atas nama kemakmuran. Semakin banyak komoditas, semakin banyak uang, semakin makmur, demikian janji-janji disampaikan.Tetapi kini Mentawai sudah mengenal eksploitasi. Dan Mentawai sudah muak.

Mentawai ingin maju. Mentawai ingin berkembang dan makmur. Tetapi Mentawai tidak ingin merusak bumi karenanya.

Warga Mentawai hidup harmonis dengan alam. Inilah sebabnya, setiap suku Mentawai memiliki petua adat mereka masing-masing yang dikenal dengan sebutan Sikerei. Para Sikerei dipercaya warga Mentawai sebagai penghubung dunia ini dengan dunia alam. Merekalah para penjaga keseimbangan itu. Penting bagi warga Mentawai bahwa pembangunan di wilayah mereka tidaklah merusak adat dan budaya tersebut.
Mentawai juga tidak ingin sekedar menjadi sumber penghasilan untuk korporasi atau kepentingan kelompok tertentu. Mentawai menginginkan masa depan yang berguna untuk Mentawai, bahwa setiap rencana pembangunan haruslah memberikan manfaat yang jelas bagi warga.